Dalam wawancara Sardjono Kartosoewiryo dengan VIVAnews.com, Sardjono mengungkap awal mula perjuangan sang ayah yang membentuk Negara Islam Indonesia. Sardjono juga bercerita panjang lebar soal pembentukan Komandemen Wilayah-Komandemen Wilayah. Begitu pula disampaikan tentang adanya ‘Negara Islam Indonesia’ di Garut, Jawa Barat, pimpinan Zenzen Komara.
Sardjono juga memaparkan kiprah ayah dari Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Hilmi Aminuddin, Muhamad Hasan, yang merupakan Panglima Daerah Islam/Tentara Islam Indonesia atau dikenal dengan DI/TII. Berikut wawancara dengan Sardjono Kartosoewirjo di kantor VIVAnews.com, Jakarta:
Siapa nama asli Kartosoewirjo?
Nama ayah aslinya Sukarmaji. Su itu artinya bagus, Karma itu pekerjaan, Aji itu Raja. lahir di Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1905. Lalu pindah ke Jawa Barat berubah menjadi Sekarmaji.
NII Kartosoewirjo itu seperti apa?
Kartosoewirjo itu tidak pernah ada perlakuan khusus. Kalau PKI ada imej bahwa dasarnya adalah ateis. Kalau kami sama-sama Islam, apanya yang dimusuhin. Waktu ayah meninggal, saya sudah umur enam tahun. Ibu saya dari awal ikut gerilya. Saya lahir di daerah Denu, Tasikmalaya Selatan. Saat itu saya lahir di tengah hutan. Jangankan orang, kera saja tidak betah di situ, kami terdesak. Saat itu 14 April 1957, kami masuk ke hutan bambu. Sekitar Gunung Galunggung, Gunung Ciremai, kemudian di Gunung Talaga Bodas, Garut, Bandung.
Apa yang diingat saat itu?
Semua menyedihkan. Jadi yang terkesan itu yang sedih. Saat itu staf Imam (panggilan Kartosoewirjo) ada 500 orang, termasuk pengawal. Jadi itu besar sekali. Saat mulai turun, itu di gugusan Gunung Batara Guru, perbatasan antara Garut dengan Bandung, Danau Ciharu, sekarang ada PLTU Kamojang, di sanalah pasukan mulai terpotong oleh TNI. Pasukan kami terpecah. Saya pisah dengan bapak, saya ikut ibu. Bapak bawa pasukan pengawal, saya juga. Saya dapat pengawal sekitar enam orang. Pengasuh saya namanya Mustiah, itu penduduk setempat. Kemudian komandan pasukan pengawal mencari induk pasukan. Saat itu yang masih ada Agus Abdullah (Perwira DI/TII) ke Gunung Ciremai. Itu sekitar bulan Juni tahun 1962.
Kemudian di Desa Tambak Baya, di daerah Garut sekitar PLTU Kamojang saat ini. Di sanalah ada kejadian yang saya anggap patut dihargai. Saat itu saya tertangkap, saat turun pada jam 9 pagi. Saat itu pula kami sudah menemukan seruan (tertulis) dari Imam yang ditanda tangani kakak saya, Muhammad Darda. Seruannya, pertama hentikan tembak menembak, kedua, kembali ke pangkuan NKRI. Sebelah kiri ada tambahan kalimat Pangdam VII Siliwangi, Ibrahim Aji. Kalimat itu, segera hubungi pos-pos TNI terdekat dan membawa perkakas perang dan dokumen. Ini sudah imbauan tapi kalau pasukan, ya silahkan saja. Harus ada perintah dari komando setempat, itu namanya Kompas, komando setempat.
Yang turun pertama itu, saya, kakak saya Komalasari, Kartika, Cecep itu anaknya Jaja Sujadi (Ketua Majelis Keuangan). Lalu ditanya, ini anak siapa dan nama-namanya ditulis. Kami ini dibilang anak pengasuh. Sampai ke markas itu, diperiksa lagi dari pemeriksaan pendahuluan, lalu BAP diubah, akhirnya ketahuan kami bukan anak pengasuh. Dan ternyata ini anak Imam lalu BAP kami diubah, termasuk BAP anak Jaja Sujadi. Kemudian, pengasuh ditanya, kenapa tadi mengatakan ini sebagai anak ibu? Ya untuk melindungi, takut ditembak.
Lain seperti apa?
Setelah itu, kami diantar lagi ke markas batalyon, di Cicalengka, menginap lagi. Setelah itu saya dibalikin ke Garut, di Wisma Korem di Cipanas. Di sanalah saya bertemu bapak, sedang sakit. Bapak acak-acakan ambutnya, pakai piyama, itu sekitar bulan Juni tahun 1962. Setelah itu keluarga saya dipindah ke Ciumbuleuit (Bandung). Tapi bapak masuk rumah sakit, saya hanya dengan ibu masuk ke wisma Siliwangi. Di Ciumbuleuit itu di atasnya Rumah Sakit paru-paru.
Proses hukum setelah penangkapan?
Setelah setahun lebih, ada berita bapak dipanggil ke Jakarta karena harus ke pengadilan. Setelah itu, bapak divonis mati. Berarti bapak tidak akan ketemu kami lagi, ya kami tidak bisa mengerti persis waktu itu usia saya 6 mau 7 tahun. Saya dengar dari kakak saya, ada permintaan bapak sebelum meninggal.
Pertama, ingin bertemu dengan perwira-perwira terdekat untuk terakhir kalinya. Tapi ditolak, karena dianggap mereka ada unsur politik. Kedua, ingin eksekusi ini disaksikan oleh wakil salah seorang dari keluarga, karena katanya di negara lain itu boleh disaksikan. Ini juga ditolak, karena mereka menganggap itu mengerikan. Ketiga, ingin jenazahnya dikembalikan ke pekuburan keluarga di Malangbong (Garut). Ini pun tidak dikabulkan, karena nanti akan banyak yang ziarah. Keempat, ingin ketemu dengan keluarga. Nah ini boleh. Kami bertemu di Jakarta, di sekitar Lapangan Banteng. Di sana ada Mahkamah Darurat Perang, itu tahun 1963.
Setelah itu kami berpisah dengan bapak. Kemudian saat akan dieksekusi, bapak boleh meminta satu permintaan lagi. Kata bapak, saya hanya ingin bertemu sang pencipta. Itu yang saya kagum, bapak percaya akan adanya hari berbangkit, hari dipertemukannya manusia dengan Tuhan. Hari dievaluasinya seluruh kebijakan-kebijakannya selama ini.
Saya hanya ingin melihat dari kebijakan-kebijakannya itu, diterima atau ditolak oleh Tuhan. Itulah yang saya terkesan sampai sekarang kenapa saya menempelkan nama Kartosoewiryo kepada nama saya. Inilah sebagai bentuk pengabdian saya, saya pakai nama Kartosoewiryo inikan harus berhati-hati sikapnya. Hingga akhirnya tahun 2010 saya berziarah untuk pertama kalinya ke makam bapak saya karena sudah ditemukan di Pulau Onrust di gugusan Pulau Seribu.
Waktu perpisahan terakhir dengan bapak apa yang dibicarakan?
Ya bicara umum. Bapak minta maaf, karena tidak bisa bertemu lagi. Bapak juga titip anak-anak pada ibu. Yang datang ada lima anggota keluarga. Itu karena banyak anak yang sudah meninggal. Salah satu kakak saya masih ada di Jawa.
Anda tidak diberitahukan di mana makam Kartosoewirjo?
Tidak diberitahukan tempatnya, sebelumnya pada tahun 1964 akhir, tepat satu tahun setelah pertemuan terakhir dengan bapak, kami dipanggil oleh kodam, bahwa eksekusi itu sudah dilakukan di sebuah tempat di wilayah hukum Indonesia, namun tidak dijelaskan di mana. Lalu mereka memberikan barang-barang pribadi milik bapak. Ada jam tangan rolex, pulpen parker 51, pulpen pelikan, tempat rokok itu ada gambar jaguar lapis emas, cincin batu pirus, baju batik yang terakhir dipakai bapak dan gigi palsu. Bapak giginya palsu semua.
Makamnya ada penandanya, pakai penutup dan bawahnya dikeramik, yang lain itu tidak ada yang dikeramik. Di sana ada dua makam, bapak sebelah kanan dan di kirinya ada makan Hassanuddin Banten yang berontak ke Portugis lalu dibuang sampai akhirnya dia meninggal. Di depan ada tulisan plang, tidak ditulis Kartosoewiryo, tapi “Makam salah satu tokok DI/TII yang dieksekusi tahun 1964″. Semua yang dikubur di pulau Onrust itu semua tercatat. Di sana ada banyak kuburan Belanda, ada juga kuburan muslim, serta bekas asrama haji.
Apakah Kartosoewirjo tidak meminta grasi ke Soekarno?
Saya tidak dengar, yang saya tahu grasinya ditolak. Terakhir saya dengar dari Sukmawati, sebelum permintaan grasi itu ditandatangani pernah juga dibicarakan di meja makan. Dengan berat hati, bapak Sukmawati menandatangi eksekusi.
Dari keluarga apakah benci terhadap Soekarno?
Kalau saya tidak ada, saat itu saya masih kecil hanya menerima takdir saja. Saya tidak bisa membangun sebuah kebencian. Rasanya bukan cara membangun yang baik. Saya hanya berpikir bagaimana menyelamatkan maklumat Imam terakhir yaitu bagaimana menyelamatkan mujahid. Kalau perang terus menerus akan habis nanti.
Karena pada tahun 1962 saat turun, jumlahnya seluruh termasuk Aceh, Sulawesi dan Jawa jumlahnya mencapai 40 ribu orang, itu catatan dari Kodam. Berbanding rakyat Indonesia yang berjumlah 40 juta. Jadi berbanding 1:1.000 ini tidak mungkin lagi perang.
Bagaimana hubungan pengikut Katosoewiryo?
Setelah tahun 1962 itu semua kembali ke pangkuan Republik Indonesia. Semua melakukan tugas-tugasnya semula. Yang bertani ya bertani, yang dagang kembali dagang. Setelah tahun 1970an mengadakan pertemuan di rumah Danu Muhamad Hasan. Danu Muhamad Hasan itu adalah panglima DI/TII dan salah satu anaknya adalah Ketua Majelis Syuro PKS, Zaenudin Hilmi. Lalu kami berkumpul, kami berkumpul karena keamanannya terjamin oleh Ali Murtopo, pelaksana lapangan Soeharto. Kami mau membentuk Front Anti Komunis tahun 1970, saya hanya ikut-ikutan saja karena masih SD.
Awal mula Komandemen Wilayah?
Saat itu, Adang Jaelani tidak kembali ke rumah, soalnya kalau dia pulang ke rumah akan diundang juga ke Kodam dan tidak kembali lagi. Dia kabur, lalu Adang membangun lagi sistem Komandemen Wilayah dengan alasan darurat, karena ada bentrok. Komandemen wilayah ini boleh diaktifkan kalau dalam keadaan darurat cirinya kontak senjata.
Komandan wilayah saat itu tinggal satu-satunya yaitu Adang Jaelani, otomatis gelar Imam diberikan kepada Jaelani saat itu dia menduduki jabatan Komandan Wilayah VII. Orang kedua yaitu Jaja Sujadi, dia Ketua Majelis Keuangan. Jaja mengatakan kita tidak bisa masuk pada kontak militer karena tidak ada tembak menembak mana mungkin kita mengatakan ini darurat. Jadi kita kembali ke sipil saja. Kalau tertib sipil, secara otomatis gelar Imam diberikan kepada Jaja Sujadi karena aturannya Ketua majelis yang ada harus mendapatkan gelar Imam. Nah itulah yang mereka sebut sebagai jihadbillah yang sekarang komandannya Zenzen Komara dari Garut. Lalu kita menjalani tertib sipil yaitu kembali ke pada kegiatan semula. Berdagang dan bertani.
Komando Wilayah itu ada berapa?
Sampai tahun 1962 maklumat Imam yang tadi turun ada delapan Komandemen. Komando Wilayah I terdiri atas Priangan Timur: Tasik, Ciamis, Banjar, Kuningan Majalengka. Komando Wilayah II yaitu Jawa Tengah, Komando Wilayah III adalah Jawa Timur, Komando Wilayah IV adalah Sulawesi, Komando Wilayah V adalah Aceh. Komando Wilayah VI yaitu Sumatera di luar Aceh, Komando Wilayah VII kembali lagi ke Garut, Bandung, Cianjur, Sukabumi, sampai ke Bogor, Komando Wilayah VIII yaitu Kalimantan. Komando Wilayah ini diatur berdasarkan waktu terbentuknya. Dalam Komandemen Wilayah dibentuk untuk mengatasi darurat perang, itu artinya, seluruh sipil dimiliterisasi.
Bagaimana mengenai Komando Wilayah IX?
Mungkin itu adalah Adang Jalani tahun 1980an, bikinlah dia di Jakarta Raya (Jabodetabek) dan Banten karena sudah banyak anggota yang empati. Lalu terbentuklah Komando Wilayah IX. Saya nggak ikut fisabililah, bilillah.
Sardjono juga memaparkan kiprah ayah dari Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Hilmi Aminuddin, Muhamad Hasan, yang merupakan Panglima Daerah Islam/Tentara Islam Indonesia atau dikenal dengan DI/TII. Berikut wawancara dengan Sardjono Kartosoewirjo di kantor VIVAnews.com, Jakarta:
Siapa nama asli Kartosoewirjo?
Nama ayah aslinya Sukarmaji. Su itu artinya bagus, Karma itu pekerjaan, Aji itu Raja. lahir di Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1905. Lalu pindah ke Jawa Barat berubah menjadi Sekarmaji.
NII Kartosoewirjo itu seperti apa?
Kartosoewirjo itu tidak pernah ada perlakuan khusus. Kalau PKI ada imej bahwa dasarnya adalah ateis. Kalau kami sama-sama Islam, apanya yang dimusuhin. Waktu ayah meninggal, saya sudah umur enam tahun. Ibu saya dari awal ikut gerilya. Saya lahir di daerah Denu, Tasikmalaya Selatan. Saat itu saya lahir di tengah hutan. Jangankan orang, kera saja tidak betah di situ, kami terdesak. Saat itu 14 April 1957, kami masuk ke hutan bambu. Sekitar Gunung Galunggung, Gunung Ciremai, kemudian di Gunung Talaga Bodas, Garut, Bandung.
Apa yang diingat saat itu?
Semua menyedihkan. Jadi yang terkesan itu yang sedih. Saat itu staf Imam (panggilan Kartosoewirjo) ada 500 orang, termasuk pengawal. Jadi itu besar sekali. Saat mulai turun, itu di gugusan Gunung Batara Guru, perbatasan antara Garut dengan Bandung, Danau Ciharu, sekarang ada PLTU Kamojang, di sanalah pasukan mulai terpotong oleh TNI. Pasukan kami terpecah. Saya pisah dengan bapak, saya ikut ibu. Bapak bawa pasukan pengawal, saya juga. Saya dapat pengawal sekitar enam orang. Pengasuh saya namanya Mustiah, itu penduduk setempat. Kemudian komandan pasukan pengawal mencari induk pasukan. Saat itu yang masih ada Agus Abdullah (Perwira DI/TII) ke Gunung Ciremai. Itu sekitar bulan Juni tahun 1962.
Kemudian di Desa Tambak Baya, di daerah Garut sekitar PLTU Kamojang saat ini. Di sanalah ada kejadian yang saya anggap patut dihargai. Saat itu saya tertangkap, saat turun pada jam 9 pagi. Saat itu pula kami sudah menemukan seruan (tertulis) dari Imam yang ditanda tangani kakak saya, Muhammad Darda. Seruannya, pertama hentikan tembak menembak, kedua, kembali ke pangkuan NKRI. Sebelah kiri ada tambahan kalimat Pangdam VII Siliwangi, Ibrahim Aji. Kalimat itu, segera hubungi pos-pos TNI terdekat dan membawa perkakas perang dan dokumen. Ini sudah imbauan tapi kalau pasukan, ya silahkan saja. Harus ada perintah dari komando setempat, itu namanya Kompas, komando setempat.
Yang turun pertama itu, saya, kakak saya Komalasari, Kartika, Cecep itu anaknya Jaja Sujadi (Ketua Majelis Keuangan). Lalu ditanya, ini anak siapa dan nama-namanya ditulis. Kami ini dibilang anak pengasuh. Sampai ke markas itu, diperiksa lagi dari pemeriksaan pendahuluan, lalu BAP diubah, akhirnya ketahuan kami bukan anak pengasuh. Dan ternyata ini anak Imam lalu BAP kami diubah, termasuk BAP anak Jaja Sujadi. Kemudian, pengasuh ditanya, kenapa tadi mengatakan ini sebagai anak ibu? Ya untuk melindungi, takut ditembak.
Lain seperti apa?
Setelah itu, kami diantar lagi ke markas batalyon, di Cicalengka, menginap lagi. Setelah itu saya dibalikin ke Garut, di Wisma Korem di Cipanas. Di sanalah saya bertemu bapak, sedang sakit. Bapak acak-acakan ambutnya, pakai piyama, itu sekitar bulan Juni tahun 1962. Setelah itu keluarga saya dipindah ke Ciumbuleuit (Bandung). Tapi bapak masuk rumah sakit, saya hanya dengan ibu masuk ke wisma Siliwangi. Di Ciumbuleuit itu di atasnya Rumah Sakit paru-paru.
Proses hukum setelah penangkapan?
Setelah setahun lebih, ada berita bapak dipanggil ke Jakarta karena harus ke pengadilan. Setelah itu, bapak divonis mati. Berarti bapak tidak akan ketemu kami lagi, ya kami tidak bisa mengerti persis waktu itu usia saya 6 mau 7 tahun. Saya dengar dari kakak saya, ada permintaan bapak sebelum meninggal.
Pertama, ingin bertemu dengan perwira-perwira terdekat untuk terakhir kalinya. Tapi ditolak, karena dianggap mereka ada unsur politik. Kedua, ingin eksekusi ini disaksikan oleh wakil salah seorang dari keluarga, karena katanya di negara lain itu boleh disaksikan. Ini juga ditolak, karena mereka menganggap itu mengerikan. Ketiga, ingin jenazahnya dikembalikan ke pekuburan keluarga di Malangbong (Garut). Ini pun tidak dikabulkan, karena nanti akan banyak yang ziarah. Keempat, ingin ketemu dengan keluarga. Nah ini boleh. Kami bertemu di Jakarta, di sekitar Lapangan Banteng. Di sana ada Mahkamah Darurat Perang, itu tahun 1963.
Setelah itu kami berpisah dengan bapak. Kemudian saat akan dieksekusi, bapak boleh meminta satu permintaan lagi. Kata bapak, saya hanya ingin bertemu sang pencipta. Itu yang saya kagum, bapak percaya akan adanya hari berbangkit, hari dipertemukannya manusia dengan Tuhan. Hari dievaluasinya seluruh kebijakan-kebijakannya selama ini.
Saya hanya ingin melihat dari kebijakan-kebijakannya itu, diterima atau ditolak oleh Tuhan. Itulah yang saya terkesan sampai sekarang kenapa saya menempelkan nama Kartosoewiryo kepada nama saya. Inilah sebagai bentuk pengabdian saya, saya pakai nama Kartosoewiryo inikan harus berhati-hati sikapnya. Hingga akhirnya tahun 2010 saya berziarah untuk pertama kalinya ke makam bapak saya karena sudah ditemukan di Pulau Onrust di gugusan Pulau Seribu.
Waktu perpisahan terakhir dengan bapak apa yang dibicarakan?
Ya bicara umum. Bapak minta maaf, karena tidak bisa bertemu lagi. Bapak juga titip anak-anak pada ibu. Yang datang ada lima anggota keluarga. Itu karena banyak anak yang sudah meninggal. Salah satu kakak saya masih ada di Jawa.
Anda tidak diberitahukan di mana makam Kartosoewirjo?
Tidak diberitahukan tempatnya, sebelumnya pada tahun 1964 akhir, tepat satu tahun setelah pertemuan terakhir dengan bapak, kami dipanggil oleh kodam, bahwa eksekusi itu sudah dilakukan di sebuah tempat di wilayah hukum Indonesia, namun tidak dijelaskan di mana. Lalu mereka memberikan barang-barang pribadi milik bapak. Ada jam tangan rolex, pulpen parker 51, pulpen pelikan, tempat rokok itu ada gambar jaguar lapis emas, cincin batu pirus, baju batik yang terakhir dipakai bapak dan gigi palsu. Bapak giginya palsu semua.
Makamnya ada penandanya, pakai penutup dan bawahnya dikeramik, yang lain itu tidak ada yang dikeramik. Di sana ada dua makam, bapak sebelah kanan dan di kirinya ada makan Hassanuddin Banten yang berontak ke Portugis lalu dibuang sampai akhirnya dia meninggal. Di depan ada tulisan plang, tidak ditulis Kartosoewiryo, tapi “Makam salah satu tokok DI/TII yang dieksekusi tahun 1964″. Semua yang dikubur di pulau Onrust itu semua tercatat. Di sana ada banyak kuburan Belanda, ada juga kuburan muslim, serta bekas asrama haji.
Apakah Kartosoewirjo tidak meminta grasi ke Soekarno?
Saya tidak dengar, yang saya tahu grasinya ditolak. Terakhir saya dengar dari Sukmawati, sebelum permintaan grasi itu ditandatangani pernah juga dibicarakan di meja makan. Dengan berat hati, bapak Sukmawati menandatangi eksekusi.
Dari keluarga apakah benci terhadap Soekarno?
Kalau saya tidak ada, saat itu saya masih kecil hanya menerima takdir saja. Saya tidak bisa membangun sebuah kebencian. Rasanya bukan cara membangun yang baik. Saya hanya berpikir bagaimana menyelamatkan maklumat Imam terakhir yaitu bagaimana menyelamatkan mujahid. Kalau perang terus menerus akan habis nanti.
Karena pada tahun 1962 saat turun, jumlahnya seluruh termasuk Aceh, Sulawesi dan Jawa jumlahnya mencapai 40 ribu orang, itu catatan dari Kodam. Berbanding rakyat Indonesia yang berjumlah 40 juta. Jadi berbanding 1:1.000 ini tidak mungkin lagi perang.
Bagaimana hubungan pengikut Katosoewiryo?
Setelah tahun 1962 itu semua kembali ke pangkuan Republik Indonesia. Semua melakukan tugas-tugasnya semula. Yang bertani ya bertani, yang dagang kembali dagang. Setelah tahun 1970an mengadakan pertemuan di rumah Danu Muhamad Hasan. Danu Muhamad Hasan itu adalah panglima DI/TII dan salah satu anaknya adalah Ketua Majelis Syuro PKS, Zaenudin Hilmi. Lalu kami berkumpul, kami berkumpul karena keamanannya terjamin oleh Ali Murtopo, pelaksana lapangan Soeharto. Kami mau membentuk Front Anti Komunis tahun 1970, saya hanya ikut-ikutan saja karena masih SD.
Awal mula Komandemen Wilayah?
Saat itu, Adang Jaelani tidak kembali ke rumah, soalnya kalau dia pulang ke rumah akan diundang juga ke Kodam dan tidak kembali lagi. Dia kabur, lalu Adang membangun lagi sistem Komandemen Wilayah dengan alasan darurat, karena ada bentrok. Komandemen wilayah ini boleh diaktifkan kalau dalam keadaan darurat cirinya kontak senjata.
Komandan wilayah saat itu tinggal satu-satunya yaitu Adang Jaelani, otomatis gelar Imam diberikan kepada Jaelani saat itu dia menduduki jabatan Komandan Wilayah VII. Orang kedua yaitu Jaja Sujadi, dia Ketua Majelis Keuangan. Jaja mengatakan kita tidak bisa masuk pada kontak militer karena tidak ada tembak menembak mana mungkin kita mengatakan ini darurat. Jadi kita kembali ke sipil saja. Kalau tertib sipil, secara otomatis gelar Imam diberikan kepada Jaja Sujadi karena aturannya Ketua majelis yang ada harus mendapatkan gelar Imam. Nah itulah yang mereka sebut sebagai jihadbillah yang sekarang komandannya Zenzen Komara dari Garut. Lalu kita menjalani tertib sipil yaitu kembali ke pada kegiatan semula. Berdagang dan bertani.
Komando Wilayah itu ada berapa?
Sampai tahun 1962 maklumat Imam yang tadi turun ada delapan Komandemen. Komando Wilayah I terdiri atas Priangan Timur: Tasik, Ciamis, Banjar, Kuningan Majalengka. Komando Wilayah II yaitu Jawa Tengah, Komando Wilayah III adalah Jawa Timur, Komando Wilayah IV adalah Sulawesi, Komando Wilayah V adalah Aceh. Komando Wilayah VI yaitu Sumatera di luar Aceh, Komando Wilayah VII kembali lagi ke Garut, Bandung, Cianjur, Sukabumi, sampai ke Bogor, Komando Wilayah VIII yaitu Kalimantan. Komando Wilayah ini diatur berdasarkan waktu terbentuknya. Dalam Komandemen Wilayah dibentuk untuk mengatasi darurat perang, itu artinya, seluruh sipil dimiliterisasi.
Bagaimana mengenai Komando Wilayah IX?
Mungkin itu adalah Adang Jalani tahun 1980an, bikinlah dia di Jakarta Raya (Jabodetabek) dan Banten karena sudah banyak anggota yang empati. Lalu terbentuklah Komando Wilayah IX. Saya nggak ikut fisabililah, bilillah.